Ketika Ketaatan Justru Diuji
Tidak sedikit orang yang merasakan kegelisahan ini: saat hidup mulai tertata dengan ibadah, shalat lebih terjaga, Al-Qur’an mulai dibaca rutin, doa semakin sering dipanjatkan—justru ujian hidup datang silih berganti. Masalah ekonomi, konflik keluarga, tekanan batin, atau cobaan kesehatan seakan muncul bersamaan. Lalu timbul pertanyaan di dalam hati, “Apakah Allah tidak ridha? Mengapa setelah istiqomah ibadah, hidup terasa semakin berat?”
Pertanyaan ini sangat manusiawi. Bahkan para sahabat Nabi dan orang-orang saleh terdahulu pun pernah merasakannya. Namun Islam tidak membiarkan kegelisahan ini tanpa jawaban. Al-Qur’an dan hadits justru memberikan penjelasan yang menenangkan: bahwa ujian bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari proses pemurnian iman dan pengangkatan derajat.
Artikel ini akan mengajak kita memahami hakikat ujian bagi orang yang istiqomah, berdasarkan dalil, kisah teladan, dan hikmah para ulama—agar hati tidak goyah dan iman semakin kokoh.
Makna Istiqomah dalam Ibadah
Istiqomah Bukan Sekadar Rajin, tapi Bertahan
Istiqomah berasal dari kata qāma yang berarti tegak lurus. Dalam Islam, istiqomah berarti konsisten berada di jalan kebenaran, meski berat dan penuh tantangan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah.”
(HR. Muslim)
Istiqomah bukan hanya tentang banyaknya ibadah, tetapi keteguhan hati untuk tetap taat dalam kondisi apa pun—lapang maupun sempit, senang maupun susah.
Ujian adalah Sunnatullah bagi Orang Beriman
Ujian Bukan Pengecualian, tapi Kepastian
Allah dengan tegas menyatakan bahwa ujian adalah bagian tak terpisahkan dari iman:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata ‘kami beriman’ sedangkan mereka tidak diuji?”(QS. Al-‘Ankabut: 2)
Ayat ini menjelaskan bahwa iman yang diikrarkan harus dibuktikan. Ujian adalah alat penyaring—untuk membedakan siapa yang benar imannya dan siapa yang hanya sekadar ucapan.
Mengapa Justru Orang yang Istiqomah Diuji Lebih Berat?
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, lalu orang yang semisal dengan mereka.”(HR. Tirmidzi)
Ini menunjukkan satu kaidah penting dalam Islam:
Bukan karena Allah ingin menyusahkan, tetapi karena Allah ingin mengangkat derajatnya lebih tinggi.
Allah Menguji Sesuai Kemampuan Hamba-Nya
Tidak Pernah Melebihi Batas
Salah satu ayat paling menenangkan bagi orang beriman adalah:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”(QS. Al-Baqarah: 286)
Artinya, tidak ada ujian yang salah sasaran. Jika Allah memberikan ujian tertentu, itu berarti Allah tahu hamba-Nya mampu melewatinya, meski terasa berat di awal.
Sering kali yang membuat ujian terasa “tak tertahankan” bukan karena ujiannya, tetapi karena kita lupa melihatnya dengan kacamata iman.
Ujian sebagai Jalan Penghapus Dosa dan Pengangkat Derajat
Setiap Rasa Sakit Bernilai Pahala
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, sakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapus sebagian dosanya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi orang yang istiqomah, ujian bukan hanya cobaan, tetapi proses pembersihan jiwa. Dosa-dosa yang mungkin tidak disadari, dihapuskan melalui rasa sabar dan ridha.
Derajat yang Tidak Bisa Diraih Tanpa Ujian
Ada derajat di sisi Allah yang tidak bisa diraih hanya dengan shalat, puasa, atau sedekah, tetapi hanya bisa dicapai melalui kesabaran dalam ujian.
Para ulama menyebutkan:
“Jika Allah mencintai seorang hamba dan menginginkan derajat tertentu baginya, maka Allah akan mengujinya.”
Kisah Teladan: Nabi dan Orang-Orang Saleh
Nabi Ayyub ‘Alaihissalam: Istiqomah dalam Ujian Panjang
Nabi Ayyub diuji dengan:
-
kehilangan harta
-
kehilangan keluarga
-
penyakit bertahun-tahun
Namun lisannya tidak pernah berhenti berdzikir. Allah mengabadikan doanya:
“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang.”(QS. Al-Anbiya: 83)
Karena kesabarannya, Allah mengembalikan semua nikmatnya dan mengangkat namanya sebagai teladan sepanjang zaman.
Pelajaran dari Kisah Para Nabi
-
Orang terbaik bukan yang paling sedikit ujiannya, tetapi yang paling sabar dan istiqomah
-
Ujian bukan tanda gagal, melainkan tahapan menuju kemuliaan
Kesalahan Umum dalam Memahami Ujian
1. Mengira Ujian = Murka Allah
Padahal, bisa jadi ujian adalah bentuk perhatian Allah agar hamba-Nya semakin dekat.
2. Membandingkan Ujian Diri dengan Orang Lain
Setiap orang memiliki kapasitas iman dan jalan hidup yang berbeda. Perbandingan hanya akan melemahkan hati.
Bagaimana Sikap yang Benar Saat Ujian Datang?
1. Perkuat Hubungan dengan Allah
Ujian bukan alasan menjauh dari ibadah, tetapi alasan untuk semakin mendekat.
2. Perbanyak Doa Agar Ditetapkan Hati
Rasulullah ﷺ sering berdoa:
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
(HR. Tirmidzi)
3. Yakin Bahwa Akhirnya Pasti Baik
Allah berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)
Bukan setelah kesulitan, tetapi bersama kesulitan itu sendiri.
AYO IBADAH UMROH BERSAMA USTAD ARIS ALWI
Penutup: Jangan Takut Ujian Jika Engkau Istiqomah
Jika hari ini Anda merasa hidup semakin berat setelah menjaga ibadah, jangan buru-buru berprasangka buruk kepada Allah. Bisa jadi, itulah tanda bahwa Allah sedang memperhatikan, membersihkan, dan menyiapkan derajat yang lebih tinggi untuk Anda.
Istiqomah memang mahal. Jalannya tidak selalu nyaman. Tetapi ujungnya adalah kemuliaan, ketenangan, dan pertemuan dengan Allah dalam keadaan diridhai.
Semoga kita termasuk hamba yang tidak mundur saat diuji, tidak sombong saat lapang, dan tetap istiqomah hingga akhir hayat.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
#IstiqomahIbadah #UjianHidup #HikmahUjian #IslamMenjawab #TandaCintaAllah #ImanDanUjian #DakwahIslam #MotivasiIslami























